Welcome to my world. I just want to share something I know. Have fun!

Rabu, 23 November 2011

Laporan Faal Pemeriksaan Fungsi Pendengaran


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
       Pendengaran adalah persepsi terhadap rangsangan bunyi. Organ yang berperan dalam sistem pendengaran adalah telinga. Telinga merupakan organ pendengaran dan juga memainkan peran penting dalam mempertahankan keseimbangan. Peran telinga itu sendiri dalam sistem pendengaran yaitu menerima gelombang suara, membedakan frekuensinya dan akhirnya mengirimkan informasi suara ke dalam sistem saraf pusat.
       Semua bagian-bagian telinga mempunyai peran tersendiri dalam proses mendengar. Telinga dibagi dalam tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar terdiri dari pinna atau aurikula (daun telinga) dan meatus akustikus eksternus (liang telinga).
 Telinga tengah merupakan sebuah rongga, dinding lateralnya adalah membrana timpani dan dinding medialnya adalah permukaan luar telinga dalam. Rongga ini dilalui oleh tiga buah tulang kecil (Osikuli) yaitu malleus, inkus dan stapes, yang membentang dari membrana timpani ke telinga dalam (foramen ovale). Rongga ini berhubungan dengan nasofaring melalui tuba eustachius.
Telinga dalam ( disebut juga labirin ) terdiri atas sebuah sistem saluran yang tak beraturan (labirin membranosa) yang dibatasi oleh tulang (labirin tulang). Labirin tulang dibagi dalam tiga bagian yang secara struktural dan fungsional berbeda, yaitu vestibulum, koklea dan kanalis semisirkularis. Labirin membranosa terdapat di dalam tulang labirin walaupun ukrannya lebih kecil. Membran ini meliputi utrikel, sakul, duktus semikular dan duktus koklea. Adapun saraf – saraf yang berperan dalam sistem ini adalah serabut saraf koklear dari saraf vestibulokoklear  yang bersinapsis dalam medula dan dalam otak tengah untuk berasenden menuju korteks auditori, yang terletak jauh di dalam fisura lateral hemisfer serebral.
Mekanisme pendengaran terjadi dimulai dari gelombang bunyi  yang ditangkap oleh aurikula kemudian menjalar ke meatus akustikus eksternus. Dari meatus akustikus eksternus gelombang bunyi diteruskan dan menghasilkan getaran dalam membrana timpani. Getaran ini kemudian menjalar di sepanjang osikuli menuju fenestra vestibuli, mendorongnya masuk dan membentuk gelombang tekanan pada prelimfe skala vestibuli yang tidak dapat terkompresi. Vibrasi prelimfe menyebabkan vibrasi pada endolimfe, sehingga rambut-rambut getar menonjol ke dalam dan merangsang ujung-ujung saraf pada membran koklea. Saraf membawa rangsang ke dalam pusat pendengaran di lobus temporal otak, tempat rangsang dinilai dan diinterpretasi.
Gangguan dalam sistem pendengaran atau biasa disebut tuli biasanya terjadi karena beberapa hal diantaranya yaitu adanya kerusakan pada bagian-bagian telinga yang biasanya terjadi karena frekuensi bunyi yang didengar terlalu besar sehingga menimbulkan kerusakan bagian telinga. Faktor lainnya yaitu adanya kerusakan pada saraf-saraf yang berperan dalam pendengaran.
I.2 Tujuan Pembelajaran
1. Mengetahui cara-cara pemeriksaan fungsi pendengaran
2. Menentukan macam-macam ketulian


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Telinga merupakan organ pendengaran dan juga meainkan peran penting dalam mempertahankan keseimbangan. Bagian-bagian yang berperan dalam pendengaran : bagian luar, bagian tengah, dan koklea. Bagian-bagian yang berperan dalam keseimbangan : kanal semisirkular, utrikel, dan sakulus. (Roger watson, 2002 : 102)
Telinga luar terdiri dari atas aurikula (daun telinga) dan liang telinga luar (meatus akustikus eksternus). Meatus akustikus eksternus terdapat di antara daun telinga dan membrana timpani . Seluruhnya dilapisi kulit, denan rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar apokrin yang telah dimodifikasi disebut kelenjar seruminosa. Kelenjar ini mensekresi serumen atau tahi telinga. Normalnya harus basah, sesuai fungsinya untuk menangkap benda asing dan mencegah serangga masuk. Telinga luar dipisahkan dari telinga luar oleh membrana timpani. (dr.Jan Tambayong, Hal.57 : 2001)
Telinga bagian tengah merupakan merupakan ruang kecil dalam tulang temporal, dipisahkan oleh membran timpani dari telinga bagian luar, dinding selanjutnya dibentuk oleh dinding bagian lateral telinga dalam. Rongga tersebut dikelilingi membran mukosa dan berisi udara yang masuk dari faring melalui saluran pendengaran. Hal ini membuat tekanan udara di kedua sisi membran timpani sama. Telinga tengah terdiri dari tiga tulang tipis, yang disebut osikel, yang menghantarkan getaran ke membrana timpani melalui telinga dalam. Membran timpani tipis dan semitransparan dan tempat melekatnya malleus, osikel pertama, melekat dengan kuat ke permukaan dalam. Inkus berartikulasi dengan malleus dan stapes, bagian dasar osikel, yang menempel pada fenestra vestibuli dan mengarah ke bagian dalam telinga. Dinding posterior telinga tengah terbuka tidak beraturan, mengarah ke mastoid antrum dan membelok ke sekolompok sel udara mastoid, seperti sinus nasal yang terinfeksi. (Roger watson, Hal.103 : 2002)
Telinga dalam (disebut juga labirin) terdiri atas sebuah sistem saluran yang tak beraturan (labirin membranosa) yang dibatasi oleh tulang (labirin tulang). Labirin tulang dapat dibagi dalam tiga bagian yang secara struktural dan fungsional berbeda, yaitu vestibulum, koklea dan kanalis semisirkularis. Labirin tulang ini berisikan prelimfe. Labirin membranosa, yang dikelilingi dan berenang dalam prelimfe, berisikan endolimfe. (dr.Jan Tambayong, Hal.58 : 2001)
Di dalam vestibulum terdapat dua kantong labirin bermembran, yaitu sakulus dan utrikulus. Sakulus, yang lebih kecil, berhubungan dengan duktus koklearis melalui saluran kecil, sedangkan utrikulus berhubungan dengan kanalis semisirkularis. Pada sakulus dan utrikulus terdapat reseptor keseimbangan yang disebut makula, untuk memantau perubahan posisi kepala. (dr.Jan tambayong, Hal.58 : 2001)
Terdapat tiga kanalis semisirkularis, yang tersusun dalam tiga bidang berbeda (anterior, posterior dan lateral). Di dalam kanalis semisirkularis tulang terdapat tiga duktus semisirkularis. Masing-masing duktus memiliki satu ujung yang melebar disebut ampula, yang berisikan reseptor keseimbangan disebut krista ampularis. Reseptor ini berespons terhadap gerak anguler (rotasi) dari kepala. (dr.Jan Tambayong, Hal.58 : 2001)
Koklea adalah saluran tulang berpilin konis (rumah siput). Ia meluas dari bagian anteroir vestibulum dan berpilin 2 ½ kali mengelilingi tulang yang disebut modiolus. Di dalamnya terdapat duktus koklearis, yang berakhir buntu di apeks koklea. Di dalam duktus koklearis terdapat organ corti, reseptor pendengaran. Duktus koklearis bersama lamina spiralis membagi rongga koklea menjadi tiga bagian (skala) terpisah, yaitu skala vestibuli (atas), skala media atau duktus koklearis (tengah) dan skala timpani (bawah). (dr.Jan Tambayong, Hal.58 : 2001)

Dua bagian labirin tulang yang terletak di atas dan di bawah skala media adalah skala vestibuli dan skala timpani. Kedua skala tersebut mengandung cairan prelimfe dan terus memanjang melalui lubang pada apeks koklea, yang disebut helikotrema. Membran reissner memisahkan skala media dari skala vestibuli, yang berhubungan dengan fenestra vestibuli. Membran basilar memisahkan skala media dari skala timpani, yang berhubungan dengan fenestra cochleae. (Ethel Sloane, Hal.191 : 2004)
Penghantaran Suara
Duktus koklearis atau skala media, yang merupakan bagian labirin membranosa yang terhubung ke sakulus, adalah saluran tengah yang berisi cairan endolimfe. Skala media berisi organ corti yang terletak pada membran basilar. Organ corti terdiri dari reseptor, disebut sel rambut, dan sel penunjang, yang menutupi ujung bawah sel-sel rambut dan berada pada membran basilar. Membran tektorial adalah struktur gelatin seperti pita yang merentang di atas sel-sel rambut. Ujung basal sel rambut bersentuhan dengan cabang bagian koklear saraf vestibulokoklear. Sel rambut tidak memiliki akson dan langsung bersinapsis dengan ujung saraf koklear. (Ethel Sloane, Hal.191 : 2004)
  Telinga mengubah gelombang suara dari dunia luar menjadi potensial aksi dalam nervus koklearis. Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengar menjadi gerakan papan kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang pada cairan telinga dalam gelombang pada organ korti sehingga menimbulkan potensial aksi pada serabut-serabut saraf. (Syaifuddin, Hal.235 : 2009)
Sebagai respons yang ditimbulkan, gelombang suara pada membran timpani bergerak ke dalam suatu resonator yang menghasilkan getaran dari sumber suara. Gerakan diteruskan pada manubrium maleus, berayun pada poros melalui batas antara saluran panjang dan pendek, lalu meneruskan getaran dari manubrium ke inkus lalu dihantarkan ke stapes. (Syaifuddin, Hal.235 : 2009)
Penghantaran suara mengubah resonansi (intensifikasi suara) yang menghasilkan getaran dari membran timpani menjadi gerakan stapes untuk mengarahkan skala vestibuli koklea yang terisi dengan prelimfe. Sistem ini dinamakan tekanan suara yang sampai pada jendela lonjong. Hasil kerja dari maleus dan inkus memperbesar gaya 1,3 kali dari luas membran timpani, jauh lebih besar dari luas papan kaki stapes, pemborosan energi suara karena resistensi 60 % dari enerfi suara yang telah sampai pada membran timpani berhasil dihantarkan ke cairan dalam koklea. (Syaifuddin, Hal.235 : 2009)
1.      Refleksi gendang : apabila otot telinga tengah (M.Tensor timpani dan M.Stapedius) berkontraksi menarik manubrium maleolus ke dalam dan papan kaki stapes keluar. Suara yang keras menimbulkan refleks kontraksi otot yang dinamakan refleks gendang. Refleks gendang ini berfungsi untuk melindungi dan mencegah gelombang suara keras yang dapat menyebabkan perangsangan yang berlebihan pada reseptor pendengar. Akan tetapi, waktu reaksi untuk refleks adalah 40-160 ms sehingga refleks tidak melindungi dari rangsangan yang sangat singkat seperti suara tembakan.
2.      Penghantaran tulang dan udara
a.       Penghantaran gelombang suara ke cairan telinga dalam melalui membran timpani dan tulang-tulang pendengar yang dinamakan penghantaran tulang telinga tengah.
b.      Gelombang suara menimbulkan getaran pada membran timpani sekunder yang menutup jendela bundar (penghantaran udara)
c.       Penghantaran tulang transmisi, getaran dari tulang-tulang tengkorak ke cairan telinga dalam. Banyak terjadi konduksi tulang bila garpu penala diletakkan langsung pada tengkorak. Jalan ini memegang peranan penting dalam penghantaran yang sangat keras.
3.      Gelombang jalan papan kaki stapes menimbulkan serangkaian gelombang berjalan pada prelimfe dalam skala vestibuli. Apabila gelombang bergerak ke arah koklea, tinggi gelombang meningkat sampai maksimum dan kemudian menurun dengan cepat. Jarak dari sapes sampai ketinggian maksimum berubah-ubah tergantung pada frekuensi getaran. Gelombang suara dengan nada tinggi akan menimbulkan gelombang yang mencapai tinggi maksimum dekat pada basis koklea, sedangkan suara nada rendah menimbulkan gelombang yang memuncak dekat dengan apeks dinding. Tulang dari skala vestibuli menjadi kaku, tetapi membran ini fleksibel. Membran basilaris tidak dalam keadaan tegang dan dapat dilakukan ke dalam skala timpani oleh puncak gelombang dalam skala vestibuli. (Syaifuddin, Hal.235-236 : 2009)
Pendesakan cairan dalam skala timpani dilepaskan ke dalam udara pada foramen rotundum. Suara akan menimbulkan distorsi (pilihan) pada membran basilaris, tempat dimana distorsi ini maksimum yang ditentukan oleh frekuensi gelombang suara. Ujung-ujung sel rambut pada organ korti dipertahankan tetap kaku oleh lamina retikularis dan rambut-rambutnya terbenama dalam membran tektorial. (Syaifuddin, Hal.236 : 2009)
Apabila membran basilaris ditekan, gerakan relatif dari membran tektorial lamina retikularis akan membengkokkan rambut-rambut. Pembengkokan ini menimbulkan potensial aksi pada saraf pendengar. (Syaifuddin, Hal.236 : 2009)
Ketulian adalah gangguan hantaran bunyi di dalam telinga luar atau telinga tengah (tuli hantar) atau kerusakan sel rambut jaras saraf (tuli saraf) atau kerusakan pada kedua bagian itu (tuli campuran). Penyebab tuli hantar atau biasa juga disebut tuli konduksi adalah sumbatan meatus akustikus eksternus oleh serumen atau benda asing, perusakan ossikula auditus, penebalan membran timpani setelah infeksi telinga tengah berulang, dan kekuatan abnormal perlengketan stapes ke foramen ovale. Tuli saraf disebabkan oleh degenerasi toksin sel rambut, dan kerusakan pada saraf-saraf yang terlibat dalam sistem pendengaran. Tuli campuran adalah tuli yang terjadi karena adanya kerusakan pada bagian-bagian telinga dan kerusakan pada syaraf-syaraf pendengaran. (Syaifuddin, Hal.239 : 2009)





























BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan
1.      Garpu tala (288 atau 512 Hz)
2.      Arloji
III.2 Cara Kerja
A.     Pemeriksaan fungsi pendengaran
1.      Tes Bisik
Tes ini merupakan tes yang sederhana dan walaupun kurang akurat tetapi cukup inovatif bagi pemeriksaan rutin. Untuk ini memerlukan ruangan sepanjang 6 meter (minimal) dan bersifa kedap suara sehingga bising tidak mempengaruhi jalannya pemeriksaan. Orang coba duduk menyamping sehingga telinga yang akan diperiksa menghadap ke mulut pemeriksa. Menutup telinga yang tidak diperiksa dan kalau perlu menutup mata juga agar orang coba tidak dapat melihat gerakan bibir pemeriksa. Pemeriksa mengucapkan kata-kata secara berbisik (intensitas suara halus sekeras bisikan sejauh 30 cm dari telinga), dan orang coba harus dapat mengulanginya dengna benar. Bila dapat didengar dari jarak :
·         6 meter berarti normal
·         5 meter berarti masih dalam batas normal
·         4 meter berarti tuli ringan
·         2-3 meter berarti tuli sedang
·         1 meter atau kurang berarti tuli berat
Dapat pula diketahui bila orang coba menderita gangguan pendengaran dengan frekuensi rendah atau tinggi. Untuk ini pemeriksa membisikkan kata-kata yang frekuensinya tinggi misalnya karcis, kikis, tangis dan sebagainya. Sedang kata-kata denga frekuensi rendah misalnya letup, rendum, beban dan sebagainya.
2.      Tes Arloji
Harus menggunakan arloji yang berdetik misalnya arloji saku. Arloji “quarts” tak dapat digunakan. Pemeriksaan ini kurang cukup untuk menentukan jenis ketulian. Orang coba diminta mendengarkan detik arloji mula-mula telinga kiri kemudian telinga kanan.
3.      Tes dengan garpu tala
a.       Tes rinne
Menggetarkan garpu tala kemudian menempelkan pangkalnya pada tulang mastoid orang coba. Meminta orang coba untuk memberitahukan jika bunyi garpu tala tidak terdengar lagi. Memindahkan garpu tala sehingga ujungnya yang bergetar berada pada kira-kira 3 cm di depan liang telinga. Bila suara masih terdengar maka rinne positif, sedang bila tidak dapat terdengar lagi disebut rinne negatif
Rinne negatif  : normal atau tuli sensorineural
Rinne positif   : tuli konduktif
b.      Tes weber
Menggetarkan garpu tala dan menempatkannya di vertex orang coba. Bila suara terdengar lebih keras pada salah satu telinga misalnya yang kanan maka ini dusebut lateralisasi kanan,
Ini dapatt disebabkan beberapa kemungkinan :
·         Telinga kana tuli konduktif, kiri normal atau tuli sensorineural (perseptif)
·         Telinga kanan normal, kiri tuli perseptif
·         Keduanya tuli konduktif, kanan lebih berat dari kiri
·         Keduanya tuli perseptif, kiri lebih berat dari pada kanan.
c.       Tes schwabach
Menggetarkan garpu tala dan ditempatkan pada tulang mastoid orang coba. Meminta orang coba memberitahukan bila tidak dipindahkan ke tulang mastoid pemeriksa. Bila pemeriksa juga tidak mendengar suara maka prosedur pemeriksaan dibalik. Mula-mula meletakkan garpu tala pada tulang mastoid pemeriksa dan setelah tak terdengar memindahkannya ke orang coba. Bila orang coba tidak mendengar lagi berarti telinga orang coba normal.
Schwabach memendek : jika setelah garpu tala dipindahkan pada pemeriksa, masih dapat didengar getaran. Berarti orang coba tuli perseptif.
Schwabach memanjang  : setelah memindahkan pada pemeriksa tidak lagi terdengar getaran, tetapi bila prosedur dibalik maka setelah pemeriksa tidak lagi mendengar bunyi. Berarti orang coba tuli konduktif.

a little about me

Hello, My name is Kurniasari! I studied at Muslim Univercity of Indonesia, I studied about nursing and now I am in 3rd grade. I live at Bungoro,Pangkep. My parents name is Mustafa and Nursiah. I am 3rd child from four brothers. I am 19 years old. Please enjoy to visit my blog. :)